Postingan

Perfectionist is never Perfect

Aku si perfeksionis! Dulu, aku kira jadi manusia perfect itu adalah anugerah. Satu-satunya yang bisa kubanggakan, tentu merasa lebih baik dari siapapun. Semua serba teliti, orientasi kepada detail, dan ga boleh ada kesalahan sekecil apapun. Kalau salah? Aku anggap GAGAL. Lalu aku merutuki diri sendiri kenapa bisa salah, padahal sudah dipersiapkan dengan matang, tentu dengan waktu yang engga sedikit. Jam tidurku, main bersama teman, scrolling social media, semua aku pertaruhkan untuk tugas yang mungkin persentase penilaiannya hanya berpengaruh sedikit.  Jadi perfeksionis itu kutukan yang harus dihilangkan. Banyak kesempatan berlalu hanya karena terlalu takut memulai, banyak analisa pada detail kecil, padahal kalau dimulai sambil belajar hasilnya bisa lebih bagus daripada terlalu banyak pertimbangan di awal, akhirnya ngga jadi. Untuk memulai aja ngga bisa, padahal orang lain udah pada ninggalin start point, mereka berjalan, meskipun persiapannya ngga begitu matang. Padahal untuk memu...

Berani Bermimpi

Gambar
  Source: Pinterest "Jangan pernah membunuh mimpimu karena sedalam-dalamnya kamu kubur, dia akan cuma pingsan dan bangkit di usia kamu tua dalam bentuk penyesalan"-Pandji Pragiwaksono. Sederhana, kan ? Namun tentunya bermakna dalam ketika kita menyadari pentingnya memiliki keberanian untuk bermimpi. Sebagian orang menganggap bahwa bermimpi sama saja dengan berhutang. Berhutang untuk mewujudkan. Hal itulah yang menjadi asal muasal dari banyaknya manusia di bumi yang memilih untuk takut bermimpi. Padahal mimpi itu gratis. Kita berhak memiliki ribuan bahkan jutaan mimpi. Kita berhak memilih mimpi mana yang akan kita ukir dalam fantasi kita. Lalu, bagaimana jika ribuan bahkan jutaan mimpi itu ternyata hanya sekadar 'mimpi'? Tak banyak dari kita memiliki mindset seperti ini: "Bagaimana jika ribuan bahkan jutaan mimpi kita ternyata berhasil? at least 10 dari 100 mimpi kita ternyata terwujud? Tentu bukan hal yang mudah dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita. Ok , berbicara...

Rencana Malam Minggu

Menyesap teh di sore hari, melihat keluar jendela dengan tatapan kosong pada rintik hujan pukul 5 cukup membuatku sedikit tenang. Udara sore kali ini lebih dingin dari biasanya, lembut menyapu wajahku namun enggan menyingkirkan pikiranku. Yah, pikiran itu lagi. Pikiran yang membuat kepalaku sesak, kadang pusing. 25 tahun baru aku lalui sejak 2 bulan lalu. Hari ini adalah hari terakhir Mei 2025. Kehidupan dewasa tanpa aba-aba harus aku lalui tanpa peta. Kehidupan yang tak ada dalam rencana, seperti tiba-tiba menyapa "Halo anak manis, saat ini kamu beranjak seperempat abad". Tepat di bulan menuju akhir tahun aku memutuskan resign dari Group Companies yang ada di list cita-citaku saat semester akhir kuliah. Ternyata benar, kita hanya mampu berencana, Allah yang menentukan. Qadarullah, lingkungan kerjaku tidak mendukung spiritual, sehingga dengan berat hati aku melepaskannya. Setelah memutuskan kontrak secara sepihak, aku tak ada rencana apapun.  Memulai lagi satu per satu, melam...

Kita sedang Tidak Bersaing

Gambar
Source : pinterest 'Kita hidup timeline masing-masing' Kadang kepikiran gini sih "kok dia cepet banget ya dapetin sesuatu yg dia mau, sedangkan aku?". Lalu aku murung, menyalahkan diriku sendiri, pernah juga menyalahkan Tuhan. Rasanya pengen banget langkahku dipercepat. Menyusul semua mimpi-mimpiku yang tertinggal.  Berburu planning ABCD ternyata masih tertinggal juga. Belum satupun yang berhasil. Merasa marah dan menggerutu kepada Tuhan.  Semakin hari melihat pencapaian teman. Menjadi staff di Company besar, bekerja menjadi seorang ASN, content creator suskes, memulai bisnis di usia muda, menjadi moderator yangg bisa menginspirasi banyak orang, berhasil membeli mobil baru, rumah, banyak banget pencapaian yang aku lihat di postingan social media.  Ah, sayangnya aku tidak sadar, aku kan hanya melihat di screen hp. Di baliknya? Memang aku tahu? Tidak. Aku tidak tahu do'a apa yang mereka langitkan. Usaha apa yang mereka lakukan sampai mencuri waktu tidur. Bagaimana c...

Menjadi Aku

Gambar
Source : pinterest 24 tahun perjalanan menjadi seorang 'Aku' bukan hal yang mudah, tapi tidak sulit juga. Beberapa kali aku menemui kegagalan dalam setiap langkah untuk menapaki jalan dengan arah yang kubuat. Tidak lupa juga menyertakan Tuhan. Menjadi aku yang penuh dengan rencana dan ambisi. Tersusun rapih, memulai dengan to do list yang selalu aku siapkan di malam sebelum memulai esok hari, menandai di google calendar, membuat notes di ponselku. Aku pelupa! Aku juga mudah terdistraksi dengan hal-hal yang tidak kuduga, sehingga aku harus membuat reminder dengan berbagai cara. Menjadi aku yang penuh dengan rasa was-was setiap harinya. Perlahan kuupayakan untuk tetap waras dan tenang. Berpegang dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Walaupun terkadang tidak selalu. Biarlah, yang baik menjadikanku bersyukur, yang tidak baik bukan berarti tidak memberikanku pelajaran hidup. Karena semua hal tergantung sudut pandang dan cara menyikapinya. Menjadi aku dengan pikiran yan...

Beginner!

Gambar
source : pinterest Halo, Aku Suci atau Ani atau lebih lengkapnya Suciani Miftahul Janah. Iya, seharusnya 'Jannah', ini karena hasil keteledoranku ketika SD salah menulis namaku sendiri untuk pengajuan KK baru.  Anyway, ini adalah blog pertamaku, setelah 24 tahun hanya angan-angan. Ketertarikanku bermula ketika duduk di bangku SMP. Saat itu aku sering mengerjakan tugas di warnet. Sesekali aku membuka jendela browser lalu mengetik 'Cerpen'. Aku suka sekali membaca cerpen. Bacaan ringan dengan konflik sederhana dan tak jauh-jauh dari cerita anak sekolah. Lalu aku berpikir untuk membuat cerita pendek sendiri di rumah, di buku catatanku.  Aku sering menyisihkan 1 buku dengan cover lucu hanya untuk kucoret-coret dengan tulisan atau gambarku. Sebenarnya bukan hanya cerpen yang sering kutulis, tapi semua perasaanku, emosiku, bahkan khayalan dan pikiranku sering kutulis di buku catatanku. Aku merasa terlalu penuh isi kepalaku jika harus kubiarkan mengendap di dalamnya. Sehingga ...